Parenting di era digital tidak bermakna orang tua yang memberikan perangkat digital kepada anak sejak dini. Maksud dari parenting di era digital adalah adanya kesadaran orang tua tentang manfaat dan bahaya perangkat digital kepada anak. Perangkat digital yang kita bahas ini adalah smartphone, tablet, notebook, dan sejenisnya.

Ayah Bunda, apabila kita memahami tentang parenting di era digital, maka kita tidak akan bersegera memberikan peralatan digital kepada anak. Kita perlu terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri anak agar lebih matang sebelum berkenalan dengan dunia digital. Tanpa penyiapan yang memadai, alih-alih mendapatkan manfaat, sangat mungkin anak justru akan mendapatkan dampak negatif dari peralatan digital.

Orang tua yang tidak memahami bahaya perangkat digital, justru bisa menjadi orang tua yang meracuni anak tanpa sadar. Mereka bisa membuat anak terdidik sejak dini oleh peralatan digital. Konten-konten dalam peraatan digital bisa berupa game, musik, film, bahkan konten porno, bisa dengan leluasa mengisi memori anak. Padahal, di masa emas atau golden age, orang tua seharusnya memasukkan hal-hal bermanfaat kepada anak. bukan justru membiarkan anak diisi memorinya dengan hal-hal negatif.

Bagaimana nanti isi otak anak jika setiap hari anak terpapar konten negatif? Bagaimana nanti kepribadian mereka?

Salah satu bahaya perangkat digital yang perlu kita sadari adalah fenomena popcorn brain pada otak anak. Popcorn brain merupakan kondisi otak anak yang terbiasa dengan layar perangkat digital dan sering merespons stimulus yang kuat. Akibatnya, otak anak akan selalu mencari hal-hal yang semakin brutal, impulsif, cepat, dan menarik. Dampak negatif yang selanjutnya terjadi adalah daya konsentrasi anak akan melemah. Daya ingat anak juga akan menurun.

Selain itu, anak yang terbiasa menikmati sajian digital berupa gambar-gambar berwarna yang bergerak diiringi sound effect yang menarik, akan menjadi kurang tertarik dengan tulisan hitam putih yaitu buku. Anak-anak menjadi kehilangan selera dalam menikmati buku. Kemampuan imajinasi anak menjadi tidak terasah ketika membaca kalimat-kalimat di dalam buku. Padahal buku merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan yang penting. Anak-anak pun menjadi kekurangan informasi bermanfaat dan ilmu yang penting diketahui. Mereka justru dijejali dengan informasi yang sebenarnya tidak penting dan kurang bermanfaat.

Oleh karena itu, menanamkan karakter yang baik kepada anak jauh lebih prioritas dibandingkan mengenalkan berbagai perangkat digital kepada anak. Ayah Bunda perlu paham bahwa berbagai perangkat digital sudah disetting user friendly sehingga mudah dipelajari. Nanti pada saatnya ketika anak sudah siap mentalnya untuk memegang perangkat digital, hal tersebut akan dengan mudah mereka pelajari.

Tantangan kehidupan kita di era kapitalisme ini semakin besar dan berat. Sudah semestinya kita membekali anak-anak kita dengan ilmu-ilmu Islam. Bukan meracuni anak dengan konten negatif yang terpancar dari perangkat digital.

Demikian, semoga bermanfaat ya Ayah Bunda.  (Tim Karima; www.karimafood.com)

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : https://karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.