Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah dengan terlalu banyak memberikan nasihat kepada anak dalam waktu yang bersamaan. Ini biasa terjadi ketika anak melakukan suatu kesalahan. Walaupun anak sudah terdiam, tertunduk dengan ekspresi wajah bersalah, bahkan sudah menangis pun, namun tidak jarang orang tua mamsih memberondongnya dengan berbagai nasihat panjang yang nampak memojokkan.

Bahkan bisa jadi, anak yang melakukan kesalahan di pagi hari, sampai sore orang tua masih  terus menasihati. Seolah tidak yakin bahwa anak sudah mendengar dan memahami nasihat tersebut. Namun, apakah benar mereka tidak paham?

Pendidikan Butuh Proses

Pernahkah kita mendengar ada orang tua yang mengeluhkan anaknya yang belum rajin sholat? Apabila anaknya masih kecil, mungkin kita akan memakluminya. Tapi jika sudah menjadi pelajar SMP, yang pada usia ini biasanya anak sudah memasuki masa baligh, tentu kita akan merasa prihatin.

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud no. 495. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Kita ketahui bahwa pada usia 7 tahun anak belum baligh. Kewajiban mengerjakan ibadah sholat belum ada kepadanya. Anak baru wajib mengerjakan sholat ketika masuk masa baligh. Usia anak masuk masa baligh bisa berbeda-beda, bisa di kisaran usia 15 tahun.

Jadi sebenarnya masih lama waktu dari 7 tahun ke 15 tahun. Tapi Nabi sudah memerintahkan untuk memerintahkan anak mengerjakan sholat di usia 7 tahun. Inilah proses pembiasaan itu. Butuh kesabaran tinggi dalam menanamkan kebiasaan baik kepada anak-anak.

Anak-anak yang sering menonton film tidak Islami, bisa mengucapkan umpatan ketika ada kejadian yang tidak disukainya. Butuh proses bisa berbulan-bulan untuk mengubah kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan Islami.

Semua bentuk pembelajaran tersebut adalah investasi masa depan. Apabila kita mengajarkan  kepada anak sekarang, mungkin akan butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk dilihat hasilnya. Semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tidak ada proses instant dalam pendidikan anak.

Faktor Pemercepat Proses Pendidikan

Ada faktor yang bisa mempercepat proses tersebut. Pertama adalah pengulangan-pengulangan sehingga ahirnya menjadi kebiasaan. Kedua adaah faktor lingkungan. Apabila anak didukung oleh lingkungan yang baik, maka proses terbentuknya pembiasaan baik itu akan bisa terjadi lebih cepat. Sementara jika lingkungan tidak mendukung, maka anak akan mengalami banyak hambatan dalam membentuk kebiasaan baik tersebut.

Demikian, semoga bermanfaat ya Ayah Bunda. Tim Karima; www.karimafood.com)

Bagi Ayah Bunda yang ingin berlangganan materi edukasi tentang Bayi, Balita, dan Pendidikan Anak, silakan bergabung ke WA Group Edukasi Karima. Silakan klik : https://karimafood.com/ke untuk bergabung. GRATIS.